“Sebesar kengerian dan kesulitan dalam mencapai sesuatu, sebesar itulah kesenangan dan kelezatan yang dirasakan.”

(Ibnul Qayyim)

Haqa-iq al yaum, umniyyat al ams. Itu pepatah Arab yang artinya, kenyataan hari ini merupakan mimpi kemarin.

Saudaraku,

Mari buka lembar sejarah orang-orang besar. Kita pasti mendapatkan kenyataan bahwa umumnya orang besar dalam sejarah mempunyai cita-cita tinggi. Kenyataan kedua, mereka dengan segenap usaha dan kesungguhannya, umumnya berhasil menggapai harapan dan cita-cita besar yang mereka inginkan.

Abdullah bin Umar, Urwah bin Zubair, Mush’ab bin Zubair, Abdul Malik bin Marwan, adalah orang besar dalam sejarah perjuangan Islam yang termasuk generasi Tabiin. Suatu hari, mereka duduk-duduk di pelataran Ka’bah. Mush’ab pertama kali mengangkat pembicaraan dengan mengatakan, “Bercita-citalah kalian.” Para sahabat masih enggan menyampaikan cita-citanya, hingga mereka meminta agar Mush’ab lah yang pertama kali menyampaikan cita cita dan keinginannya. “Mulailah dari dirimu,” ujar mereka.

Mush’ab menjawab, “Aku ingin kaum Muslimin bisa menaklukkan wilayah Irak, aku ingin menikahi Sakinah puteri perempuan Husein dan Aisyah binti Thalhah bin Ubaidillah.” Beberapa tahun ke depan, Mush’ab berhasil memperoleh apa yang dicita-citakannya itu.

Urwah bin Zubair lalu mengungkapkan keinginannya. Ia mengatakan, dirinya ingin menguasai ilmu fiqih dan hadits. Urwah, dalam sejarah Islam, memang menjadi salah satu tokoh ulama fiqih dan banyak meriwayatkan hadits.

Abdul Malik bin Marwan mengatakan dirinya ingin menjadi khalifah. Dan ternyata, ia kelak dilantik menjadi khalifah pada masa Daulah Umawiyah. Abdul Malik bin Marwan bukan hanya sebagai khalifah yang memiliki ilmu luas dan banyak beribadah, tapi juga tokoh yang berhasil menyatukan kembali wilayah kekhalifahan sepeninggal dua putera Zubair bin Awam, Mush’ab dan Abdullah, dalam perang melawan Hajjaj As Tsaqaii. Ia juga yang menjadi perintis sistem post, penerjemah banyak kitab asing dan membuat uang logam dari emas.

Sedangkan yang terakhir, Abdullah bin Umar mengungkapkan apa yang menjadi cita-citanya. Ia menegaskan, cita-citanya adalah surga!

Saudaraku,

Masalah cita-cita memang menjadi bagian dari tema yang sering dibicarakan para salafushalih. Amirul Mukminin Umar bin Khattab suatu hari meminta para sahabat untuk mengungkapkan apa yang mereka cita-citakan. “Bercita-citalah kalian.” Seorang sahabat menyahut, “Aku ingin sekali seluruh bangunan ini terisi emas yang bisa aku infakkan dijalan Allah.”

Umar berkata lagi, “Bercita-citalah kalian.” Seseorang mengatakan, ‘Aku ingin ruangan ini penuh dengan permata dan mutiara yang bisa aku infakkan di jalan Allah.” Umar berkata, “Bercita-citalah lagi.” Mereka mengatakan, “Kami tidak tahu lagi apa yang bisa kami cita-citakan selain itu ya Amiral Mukminin.”

Umar lalu berkata, “Aku bercita-cita kalau ruangan ini penuh didatangi orang-orang besar antara lain seperti Abu Ubaidah, sehingga aku bisa berjihad di jalan Allah bersamanya.” Subhanallah. Maha Suci Allah.

Dengarkanlah lagi cerita yang disampaikan seorang sahabat Rasulullah, Rabiah bin Kaab namanya. Aku, kata Rabiah, pernah bermalam bersama Rasulullah. Di waktu malam, aku menghampiri Rasulullah dengan mengantarkan air wudhu dan sejumlah keperluannya. Rasul berkata padaku, “Apa yang engkau cita-citakan, wahai Rabiah?” Rabiah mengatakan, “Aku ingin menemanimu di surga.” Rasul bertanya lagi, “Selain itu wahai Rabiah?” Rabiah menjawab, “Sama saja ya Rasulullah, aku hanya ingin menemanimu di surga.” Rasul lalu mengatakan, “]ika demikian, bantulah aku untuk mewujudkan apa yang engkau inginkan itu dengan memperbanyak sujud.”(HR. Muslim)

Rasul sudah mencoba memberi kesempatan pada Rabiah agar ia memilih apa yang ia inginkan. Namun Rabiah ternyata tetap memilih cita-citanya yang hanya satu. Ya, menemani Rasulullah di surga. Apakah masalahnya selesai sekedar Rabiah mengungkapkan apa yang menjadi keinginannya itu? Tidak.

Rasulullah mengajarkan, seseorang tidak hanya cukup dengan mengatakan apa yang ia inginkan, melainkan diperlukan upaya dan kerja keras untuk bisa mencapainya. Untuk mencapai keinginannya, Rasulullah meminta Rabiah memperbanyak sujud. Ingat saudaraku, memperbanyak sujud…. Tentu bukan sekedar sujud yang biasa.

Saudaraku,

Perhatikan apa yang menjadi cita-cita mereka dan bagaimana besarnya cita-cita yang mereka ucapkan. Lalu, bagaimana hingga akhirnya mereka bisa mencapai cita-cita itu? Cita-cita mereka umumnya mencakup hal besar yang sebenarnya sulit dicapai kecuali dengan mental dan kesungguhan luar biasa. Sebuah syair mengatakan, “]ika jiwa menjadi besar (keinginannya), maka jasad akan menjadi lelah untuk memaknainya.”

Sebuah keinginan besar dan cita-cita tinggi, memang tak bisa diperoleh dengan sedikit usaha atau perjuangan setengah-setengah. “Para pemikir di seluruh generasi sudah menyimpulkan, suatu kenikmatan tidak akan bisa dicapai melalui sesuatu yang nikmat juga. Barang siapa yang lebih banyak utamakan istirahat, maka ia akan didatangi oleh peristirahatannya sendiri. Sebesar kengerian dan kesulitan dalam mencapai sesuatu, sebesar itulah kesenangan dan kelezatan yang dirasakan,” demikian ujar Imam Ibnul Qayyim Al Iauziyah.

Saudaraku,

Mungkin, ada di antara kita yang mengatakan, kepribadian para salafushalih itu sudah tentu berbeda dengan kita yang hidup di zaman ini. Dengarkanlah pengalaman yang pernah disampaikan seorang juru dakwah asal Kuwait, Al Bilali, tentang seorang muazin yang sangat sedih ketika mendengarkan menara Big Ben di London yang sudah hampir runtuh. Tahukah saudaraku, apa jawabannya ketika ia ditanya sebab kesedihannya.

‘Aku masih bercita-cita bila Allah memuliakan agama ini dan kaum Muslimin untuk menaklukkan Inggris. Aku akan naik ke menara itu, dan di atasnya aku akan mengumandangkan azan.”

Saudaraku, apa yang kita cita-citakan?

Oleh: Muhammad Lili Nur Aulia