Dari Diri Sendiri
“Ketahuilah oleh kalian bahwa kunci kekuatan kalian ada pada keikhlasan dan kebenaran. Sampai-sampai para pendukung kebathilan ingin menghimpun kekuatan dari keikhlasan mereka dalam melakukan kebathilan. Keikhlasan pada pengabdian kita di jalan inilah yang akan mengokohkan dakwah kita.” (Badiuzzaman Said Nursi)
Rasulullah suatu ketika pernah bertanya di hadapan sahabatnya. “Siapa di antara kalian yang hari ini berpuasa?” Abu Bakar RA menjawab, “Saya ya Rasulullah.”
Rasul bertanya lagi, “Siapa di antara kalian yang hari ini mengikuti Jenazah?” Abu Bakar menjawab, “Saya ya Rasulullah.”
Rasul bertanya lagi, “Siapa di antara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?” Abu Bakar RA lagi lagi menjawab, “Saya Ya Rasulullah.”
Keempat kalinya, Rasulullah bertanya, “Siapa diantara kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?” Abu Bakar kembali menjawab, “Saya ya Rasulullah.”
Rasulullah bersabda, “Tidaklah semua perilaku itu dilakukan oleh seseorang kecuali ia pasti masuk surga.” (HR. Muslim)
Saudaraku,
Salah satu yang sering membuat kita kagum pada para salafus shalih adalah, besarnya dorongan jiwa mereka untuk melakukan amal-amal shalih. Mereka melakukan banyak kebaikan, karena inisiatif sendiri, bukan tekanan atau dorongan dari orang lain. Mereka, tidak pasif menunggu perintah, tapi proaktif menyongsong tugas. Mereka adalah para pemburu pahala Allah dan selalu berlomba memperoleh ganjaran Allah yang paling banyak.
Saudaraku,
Pernahkah kita mendengar nama seorang sahabat, Salkan bin Salamah? Dia seorang prajurit Rasulullah yang ikut dalam perang Tabuk dan melakukan jaga malam secara diam-diam, di luar giliran jaga malam yang telah ditetapkan oleh pasukannya. Salkan menjaga para penjaga malam yang telah ditugaskan.
Ketika Rasulullah mendengar sikap Salkan itu, Rasulullah lalu mengangkat tangan dan melantunkan doa, “Ya Allah limpahkanlah rahmat-Mu pada penjaga malam dan kepada orang yang menjaga penjaga malam.”
Perang Tabuk terjadi saat Rasululllah dan para sahabatnya dalam keadaan susah karena kekurangan harta. Ingin sekali rasanya, melakukan peran-peran seperti Salkan bin Salamah. Berinisiatif melakukan kebaikan di saat yang tepat dan mendapat doa Rasulullah.
Kekuatan apa yang membuat mereka secara spontan memenuhi panggilan ketaatan seperti itu? Energi apa yang tersimpan dalam hati mereka hingga memunculkan kekuatan melakukan tugas yang wajib dilakukan, bahkan lebih dari kekuatan dan kesanggupan manusia biasa?
Perhatikanlah firman Allah, “Dan tidak (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata, “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu.” Lalu mereka kembali, sedangkan mata mereka bercucuran air mata karena sedih tidak memperoleh apa yang mereka nafkahkan (untuk jihad).” (QS. At Taubah: 92)
Itulah kekuatan iman. Menangis tatkala tak bisa memberi manfaat pada orang lain. Sedih ketika tak mungkin terlibat dalam amal-amal shalih. Tak ada yang membuat mereka mampu melakukan semuanya, kecuali karena iman. Keimanan telah memunculkan sikap indifadzati, motivasi dari dalam, yang menjadikan setiap mereka selalu bersemangat dan bertenaga melakukan amal-amal shalih.
Saudaraku,
Mari merenung lagi tentang kondisi kita saat ini, di sini. Apa yang membuat kita sering menjadi lemah, tidak bertenaga, lunglai, tak kuat bahkan hanya sekedar melakukan amal wajib? Apakah sebenarnya yang menjadikan kita seperti tak berdaya memenuhi panggilan Allah saat adzan berkumandang? Kenapa kita menjadi berat menunaikan tugas-tugas dakwah yang kian lama semakin membutuhkan tenaga para pendukungnya yang segar dan kuat?
Tundukkanlah hati dan pasrahkanlah semuanya pada Allah. Dialah yang Maha Kuasa dan Maha Memiliki Keinginan memberi petunjuk kepada kita, hamba-hamba-Nya. Dialah yang Maha Kuat memberi kekuatan pada kita, hamba-hamba-Nya untuk melakukan ketaatan.
Saudaraku,
Carilah waktu-waktu sunyi untuk melakukan amal-amal Shalih. Intailah saat-saat gelap untuk menjalin hubungan yang kuat dengan Allah. Amal yang dilakukan secara tersembunyi, jauh dari pantauan orang dan jauh dari keramaian, adalah salah satu indikasi adanya indifazati dalam diri seseorang.
Amal-amal ketaatan dan kebaikan di saat sunyi, akan menanamkan keikhlasan. Amal shalih di kala tak ada orang yang mengetahui, itulah yang semakin menguatkan ketulusan dan keikhlasan. Dan di sanalah berawal dorongan jiwa untuk selalu melakukan kebaikan.
Itulah yang menjadikan Badiuzzaman Said Nursi, tokoh pejuang dan mujaddid terkenal dari Turki mewasiatkan muridmuridnya, “Ketahuilah oleh kalian bahwa kunci kekuatan kalian ada pada keikhlasan dan kebenaran. Sampai-sampai para pendukung kebathilan ingin menghimpun kekuatan dari keikhlasan mereka dalam melakukan kebathilan. Keikhlasan pada pengabdian kita di jalan inilah yang akan mengokohkan dakwah kita.” (Badi Zaman Said Nursi, Al Lamaat, h.225)
Mari membuat sejarah diri kita sendiri. Karena kita akan menghadap Allah sendiri-sendiri. Lakukan semua amal shalih dari diri sendiri. Lepaskan sekat yang menjadikan kita terikat oleh tekanan orang lain, dalam melakukan ketaatan. Tak perlu menunggu perintah, dan tidak perlu menanti untuk diminta. Buang jauh-jauh segala perasaan takut oleh penilaian orang dan khawatir oleh pendapat orang saat kita melakukan amal-amal shalih.
Abaikan perkataan makhluk, karena kita hanya berharap pada Al Khalik. Tak usah peduli dengan anggapan manusia, karena kita hanya mempersembahkan semuanya, untuk Allah.
Saudaraku,
Rasakanlah bagaimana kesejukan, ketentraman, ketenangan batin hingga kekuatan besar yang kita peroleh lewat amal-amal shalih, tanpa dorongan, tanpa perintah, tanpa tekanan, tanpa pengaruh siapa pun kecuali Allah. Lalu ucakapanlah, subhanallah.
oleh: Muhammad Lili Nur Aulia
